Senin, 22 April 2013

Penegakan Disiplin Partai


SI akhirnya pecah ketika keluarnya Semaoen dan Darsono keluar dari SI. Hal ini dikarenakan Abdul Muis dan Agus Salim melarang  adanya keanggotaan rangkap seperti yang dilakukan oleh Semaoen dan darsono. Agus Salim dan Abdul Musil melakukan desakan saat kongres ke 6 SI pada tanggal 6 sampai 10 Oktober 1921. Anggota SI harus memilih antara SI atau organisasi lain, dengan tujuan agar SI bersih dari unsur-unsur komunis. Hal ini dikhawatirkan oleh PKI sehingga Tan Malaka meminta pengecualian bagi PKI. Namun usaha ini tidak berhasil karena disiplin partai diterima dengan mayoritas suara (voting). Saat itu anggota-anggota PSI dari Muhammadiyah dan Persis pun ikut dikeluarkan, karena disiplin partai tidak memperbolehkannya.Keputusan mengenai disiplin partai diperkuat lagi dalam kongres SI pada bulan Februari 1923 yang diadakan di Madiun. Dalam kongres tersebut Tjokroaminoto memusatkan topiknya tentang peningkatan pendidikan kader SI dalam memperkuat organisasi dan pengubahan nama CSI menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Pada kongres PKI bulan Maret 1923, PKI memutuskan untuk menggerakkan SI Merah untuk menandingi SI Putih. Pada tahun 1924, SI Merah pun berganti nama menjadi "Sarekat Rakyat".Perjuangan Sarekat Islam yang sebenarnya dimulai tahun 1912-1923, SI menempuh cara (kooperatif) atau mau bekerjasama dengan pemerintah Belanda. Sejak terjadi perpecahan di tubuh SI yaitu sejak tahun 1923 perjuangan SI ditempuh dengan jalan sebaliknya yaitu tidak mau bekerjasama (non kooperatif) dengan penjajah. Pada tahun 1927, SI pun mengadakan kongres kembali. Di dalam kongres itu SI menegaskan bahwa tujuan SI adalah mencapai kemerdekaan Indonesia berdasarkan agama Islam. Oleh karenanya, SI akhirnya pun menggabungkan diri dengan Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Pada tahun 1927, nama Partai Sarekat Islam diubah menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Setelah menjadi PSII, organisasi tersebut semakin terpecah-belah lagi menjadi PSII pimpinan Kartosuwiryo dan PSII pimpinan Abikusno, Partai Sarekat Islam Indonesia, dan PARI pimpinan dr. Sukiman. Organisasi-organisasi tersebut tetap berdiri hingga zaman Pendudukan Jepang di Indonesia. 

Tidak ada komentar:

KELOMPOK SOSIAL

Hello helo, kita masuk ke materi kelas XII ya, curhat nih besok remed :') efek gak belajar, kalian jangan ga belajar ya ntar nyesel. Tap...